Sepenggal Episode
Sebenarnya ini sedikit bernostalgia, tapi tak mengapa. Terjatuh,tersakiti, menyakiti, itu adalah hal yang pernah di alami setiap orang, tentunya semuanya tak jadi masalah ketika hal tersebut menimpa, hanya saja yang menjadi masalah ketika terjatuh kemudian lumpuh, tak mampu bangun kembali. Yang jadi masalah itu ketika tersakiti lalu meninggalkan noda-noda dendam di hati. Yang menjadi masalah itu ketika menyakiti dan terus menyakiti tanpa henti.hehehehe
Sepenggal episode tahun lalu, di moment bulan dan saat liburan semester ini, episode itu kembali sekedar numpang lewat di samar-samarnya ingatanku. Di saat dimana aku benar2 merasakan sakitnya terjatuh, di saat air mata itu benar2 nampak nyata di wajah ini. Disaat aku benar-benar mengerti arti sebuah diam dalam kesakitan. Dalam episode itu, sungguh untuk pertama kalinya bibirku terasa kelu, bisu, tak bisa mengucapkan sepatah katapun. Dimana tangan ini tak bisa terulurkan untuk meberi dan meminta maaf. Episode itu yang membuat aku benar2 mengerti bahwa kepercayaan itu sulit untuk diberikan kesempatan kedua. Dalam episode itu, begitu jelas teringat, terdengar sebuah ungkapan yang sungguh menjadi tamparan keras untukku, bsebuah kalimat yang membuatku terhenyak sadar, “diriku tak sebaik yang kuperkirakan selama ini”, ternyata ada yang membenciku.
Episode itu sungguh membuat seluruh anggota tubuhku sesak, tak mampu berpikir panjang. Yang terpikirkan saat itu adalah, aku harus pergi dari tempat ini, aku harus keluar dari kelompok mereka yang membuatku menemukan tujuan hidupku. Kebaikan-kebaikan, ketenangan-ketenangan yang telah aku dapatkan ketika berada di tengah mereka terasa hilang seketika ketika seorang dari mereka membuatku speechless karena bagiku terlalu mengedepankan Ghorizah Baqa’, sebuah ilmu yang aku dapatkan dari mereka.
Kerasnya orang tuaku untuk mempertahankanku tetap disini bersama mereka tak mampu meluluhkan kerasnya keinginan ini untuk pindah, untuk pergi dari tempat ini, untuk jauh dari mereka. Di episode itu, sungguh membuat keluargaku bingung akan tindakanku yang tak mereka ketahui jelas alasannya.
Episode itu pun telah mampu mengajariku untuk benar2 berpikir keras di saat hati ini tak lagi kompromi. Di saat aku berada di depan dosen yang akan membuat surat pindah untukku, tiba2 kudapati kabar, ibuku sakit. Entahlah, ada apa dengan diriku saat itu, mungkin episode ini terlalu menyakitkan sehingga sakitnya ibu ku tak mampu meredamkan keinginan ini untuk pindah. Tapi setelah beberapa hari berlalu, mungkin karena diriku perempuan yang tentunya memiliki naluri keibuan, seperti perempuan pada umumnya yang begitu peka perasaannya. Akhirnya, mampu membuat hatiku luluh untuk tetap tinggal disini.
Saat itu, aku benar-benar menemukan pancaran kedewasaan diriku. Dengan segenggam semangat, aku pun berani menghadapi hari2ku di kampus, dan tentunya meskipun saat itu aku tak memiliki keyakinan kuat, tapi cukup sebuah kalimat “Kulakukan semua ini karena Allah, bukan yang lainnya” akhirnya aku pun tetap bertahan berada di tengah-tengah mereka dalam belajar dan memperjuangkan Dien-Nya.
Sehabis semester tahun ini, rasa jenuh berada di tengah2 mereka kembali numpang lewat. Yah tentu jenuhnya bukan tanpa sebab, tapi ada sebab tertentu. Tapi mungkin tak se’sesak episode tahun lalu. Dimana dalam episode ini, rasa kesendirian itu hadir membayangiku. Dalam episode ini, aku merasa tak berada di tengah2 mereka, aku merasa terbang sendiri tanpa arah. Teman-teman seperjuanganku entah sedang mengalami apa, sehingga aku merasa sendiri. Meskipun terkadang kucoba mencari mereka, dan di saat kutemukan seolah-olah aku dan mereka tak se-HT lagi.
Tapi, Alhamdulillah ada sesuatu yang menguatkan diriku. Sesuatu itu yang membuatku tetap bertahan bersama mereka. Sesuatu menjadi penguatan yang tersirat entah dari sisi mana yang mampu membuatku tetap ingat akan kewajiban ini, kewajiban untuk tetap bersama mereka, kewajiban yang harus aku lakukan sebagai konsekuensi dari tujuan hidup yang telah ku pilih ini.
“Terkadang Allah memiliki cara tersendiri untuk merangkulmu saat kau mulai menjauh”
Yah, tentunya skenario episode ini tak berjalan sendirinya, ada Dia Yang Maha Mengatur. Semua ini adalah caranya merangkulku di saat aku mulai menjauh, kehilangan pijakan mungkin, bahkan ingin pergi dari yang seharusnya kulakukan.
Sungguh semua yang kita lakukan itu haruslah hanya karena-Nya, untuk mendapat ridho-Nya semata. Jika niat ini hanya karena-Nya, tentu terjatuh dan tersakiti itu tak ada. Episode2 itu telah banyak memberikan makna yang tak mampu kejelskan. Dan yang terpenting untung episode-episode kehidupan selanjutnya, letakkan niat ini hanya karena-Nya, lakukan sesuatu berdasarkan aturan-Nya. Insya Allah, tak akan ada kata terjatuh lagi, yang ada hanya berjalan, berlari, dan melompat untuk menggapai Ridho-Nya dan menjemput kemenangan Dien-Nya di kehidupan ini











0 Response to "Sepenggal Episode"
Posting Komentar